Rabu, 09 Januari 2013

hubungan interpersonal


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang masalah
Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagi hubungan antar pribadi dengan pribadi  yang lain. Hal itu sejalan dengan fotrah manusia selain sebagai makhluk individual juga sebagai makhluk social sehingga hubungan interpersonal pasti akan di alami oleh seluruh manusia yang hidup secara normal. 
Komunikasi yang efektif diatandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi kita juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship.dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentant orang lain dan persepsi dirinya;sehingga makin efektif. Oleh sebab itu maka penting bagi seorang guru untuk mengetahui dan memahami tahapan perkembangan hubungan intrepersonal peserta didik demi tercapainya tujuan dari pendidikan.
1.2  Rumusan masalah
1)                      Apa pengertian dari hubungan interpersonal ?
2)                     Apa saja jenis-jenis hubungan interpersonal ?
3)                     Bagaimana perkembangan dan pola-pola hubungan interpersonal ?
4)                     Fsktor-faktor apa saja yang mempengaruhi hubungan Interpersonal?
5)                     Bagaiman karakteristik Hubungan Interpersonal Peserta didik ?
1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dan pembuatan makalah ini selain bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik, pembuatan makalah kami ini yang berjudul perkembangan hubungan Interpersonal Peserta Didik juga mempunyai tujuan untuk agar kita dapat menngetahui dan memehami hal-hal yang berhubungan dengan hubungan interpersonal manusia khususnya peserta didik karna  pemahaman terhadap hubungan interpersonal peserta didik akan sangat berguna bagi guru dan calon guru dalam menyikapi peserta didik.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagi hubungan antar pribadi dengan pribadi  yang lain. Hal itu sejalan dengan fotrah manusia selain sebagai makhluk individual juga sebagai makhluk social sehingga hubungan interpersonal pasti akan di alami oleh seluruh manusia yang hidup secara normal. 
Hakikat dari hubungan interpersonal adalah bahwa ketika berkomunikasi, kita bukan hanya menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal. Jadi, kita bukan sekedar menentukan content tetapi juga relationship. Pandangan ini merupakan hal baru dan untuk menunjukkan hubungan pesan komunikan ini disebut sebagai metakomunikasi.
Dalam hal ini berarti bahwa studi komunikasi interpersonal bergeser dari isi pesan kepada aspek relasional. Aspek relasional inilah yang menjadi unit analisis dari komunikasi interpersonal. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya sehingga makin efektif komunikasi itu berlangsung.
Hubungan interpersonal terbentuk ketika proses pengolahan pesan, (baik verbal maupun nonverbal) secara timbal balik terjadi dan hal ini dinamakan komunikasi interpersonal. Ketika hubungan interpersonal interpersonal tumbuh, terjadi pula kesepakatan tentang aturan berkomunikasi antara para partisipan yang terlibat.

2.2  Jenis-Jenis Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal dapat diklasifikasikan berdasarkan faktor-faktor berikut:
1.      Berdasarkan jumlah individu yang terlibat:
a)      Hubungan diad
Merupakan hubungan atara dua individu. Kebanyakan hubungan kita dengan orang lain bersifat diadik. William Wilmot mengemukakan beberapa ciri khas hubungan diad:


a. Setiap hubungan diad memiliki tujuan khusus
b. Individu dalam hubungan diad menampilkan wajah yang berbeda dengan ‘wajah’ yang ditampilkannya dalam hubungan diad yang lain.
c. Pada hubungan diad berkembang pola komunikasi (termasuk pola berbahasa) yang unik/khas yang akan membedakan hubungan tersebut dengan hubungan diad yang lain.
b)      Hubungan Triad
Merupakan hubungan antara tiga orang. Dibandingkan hubungan diad, hubungan triad:
a. Lebih kompleks
b. Tingkat keintiman/kedekatan anatarindividu lebih rendah, dan
c. Keputusan yang diambil lebih didasarkan voting atau suara terbanyak (dalam hubungan diad, keputusan diambil melalui negosiasi).
2. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai:
 A. Hubungan Tugas
Merupakan sebuah hubungan yang terbentuk karena tujuan menyelesaikan sesuatu yang tidak dapat dikerjakan oleh individu sendirian. Misalnya hubungan antara pasien dengan dokter, hubungan mahasiswa dalam kelompok untuk mengerjakan tugas, dan lain-lain.
B.  Hubungan Sosial
Hubungan yang tidak terbentuk dengan tujuan untuk menyelesaikan sesuatu. Hubungan ini terbentuk baik secara personal dan sosial (social relationship). Sebagai contoh adalah hubungan dua sahabat dekat, hubungan dua orang kenalan saat makan siang dan sebagianya.
3. Berdasarkan Jangka waktu:
A.  Hubungan jangka pendek
Merupakan hubungan yang sementara sifatnya, hanya berlangsung sebentar. Misalnya hubungan antara dua orang yang saling menyapa ketika bertemu di jalan.
B. Hubungan Jangka Panjang
Hubungan ini berlangsung dalam waktu yang lama. Semakin lama suatu hubungan semakin banyak investasi yang ditanam didalamnya (misalnya berupa emosi atau perasaaan, materi, waktu, komitmen dan sebagainya) Dan karena investasi yang ditanam itu banyak maka semakin besar usaha kita untuk mempertahankannya.


4. Berdasarkan tingkat kedalaman atau keintiman;
A.  Hubungan Biasa
Meruapakan hubungan yang sama sekali tidak dalam atau intim. Pola-pola komunikasi yang berkembang sifatnya impersonal atau ritual. Hubungan akrab/intim Bersifat personal dan terbebas dari hal-hal yang ritual. Hubungan ini ditandai dengan penyingkapan diri (self-disclosure). Makin intim suatu hubungan, makin besar kemungkinan terjadinya penyingkapan diri tentang hal-hal yang sifatnya pribadi. Hubungan intim terkait dengan jangka waktu: keintiman akan tumbuh pada jangka panjang. Karena itu hubungan intim akan cenderung dipertahankan karena investasi yang ditanamkan individu di dalamnya dalam jangka waktu yang lama telah banyak.
B. Hubungan akrab/intim
Bersifat personal dan terbebas dari hal-hal yang ritual. Hubungan ini ditandai dengan penyingkapan diri (self-disclosure). Makin intim suatu hubungan, makin besar kemungkinan terjadinya penyingkapan diri tentang hal-hal yang sifatnya pribadi. Hubungan intim terkait dengan jangka waktu: keintiman akan tumbuh pada jangka panjang. Karena itu hubungan intim akan cenderung dipertahankan karena investasi yang ditanamkan individu di dalamnya dalam jangka waktu yang lama telah banya

2.3  Perkembangan Hubungan Interpersonal
Apapun bentuk hubungan yang terjadi, dinamika sebuah hubungan interpersonal akan tumbuh, berkembang dan berakhir. Menurut Ruben, tahap  -tahap hubungan interpersonal akan meliputi;
1. Inisiasi,
merupakan tahap paling awal dari suatu hubungan interpersonal. Pada tahap ini individu memperoleh data mengenai masing-masing melalui petunjuk nonverbal seperti senyuman, jabatan tangan, pandangan sekilas, dan gerakan tubuh tertentu.
2.   Eksplorasi.
Tahap ini merupakan pengembangan dari tahap inisiasi dan terjdai tidak lama sesudah inisiasi. Disini mulai dijajaki potensi yang ada dari setiap individu serta dipelajari kemungkinan-kemungkinan yang ada dari suatu hubungan.
3. Intensifikasi.
            Pada tahap ini, individu harus memutuskan baik secara verbal maupun nonverbal apakah hubungan akan dilanjutkan tau tidak.
4. Formalisasi.
Dalam perkembangannnya hubungan yang telah berjalan itu perlua diformalkan. Pada tahap ini tiap-tiap individu secar bersama mengembangkan simbol-simbol, pola-pola komunikasi yang disukai, kebiasaan dan lain sebagainnya. Contoh hubungan dua orang berpacaran diformalkan dengan tukar cincin. Hubungan jual beli diformalkan dengan penandatanganan akta jual beli dan sebagainya.
5. Redefinisi.
Sejalan dengan waktu individu tidak dapat menghindarkan diri dri perubahan. Perubahan ini mampu menciptakan tekanan terhadap hubungan yang tengah berlangsung. Konsekuensinya adalah individu perlu mendefinisikan kembali hubungan yang sedang dijalankan.
6. Deteriorasi.
Kemunduran atau melemahnya suatu hubungan kadang tidak disadari oleh mereka yang terlibat dalam hubungan tersebut. Jika kemunduran yang terjadi itu tidak segera diantisipasi maka bukan tidak mungkin hubungan yang terbentuk itu akan mengalami kehancuram.

Satu hal yang perlu diingat adalah tidak semua hubungan yang terbentuk harus melewati keenam tahapan diatas. Atau bisa saja satu hubungan melewati keenamnya sementara hubungan yang lain hanya melewati tiga dari enam tahapan tersebut.
Mark Knapp mengemukakan pendapatnya tentang tahapan perkembangan sebuah hubungan interpersonal:
1. Inisiasi:tahap awal yang dicirikan dengan sedikit pembicaraan
2. Eksperimen:suatu tahap dimana para individumulai mencari informasi lebih banyak tentang individu lain.
3. Intensifikasi: sama dengan yang dikemukakan Ruben
4. Integrasi: tahap yang menumbuhkan perasaan bersama; individu merasa sebagai satu kesatuan, bukan lagi individu yang berbeda
5. Pertalian atau ikatan:suatu tahap dimana individu secara formal meneguhkan hubungan mereka.
Sementara itu Jalaluddin Rakhmat, meringkas perkembangan hubungan interpersonal itu menjadi tiga tahap saja:
1. Pembentukan hubungan.
Tahap ini sering disebut sebagai tahap perkenalan (acquintance process). Fokus pada tahap ini adalah proses penyampaian dan penerimaan informasi dalam pembentukan hubungan. Informasi yang diperoleh tidak selalu melalui komunikasi verbal melainkan juga melalui komunikasi nonverbal.
2. Peneguhan hubungan
Hubungan interpersonal tidak bersifat statis tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting untuk memelihara keseimbangan, yaitu keakraban, kontrol,respons yang tepat dan nada emosional yang tepat.
3.      Pemutusan hubungan
Suatu hubungan interpersonal yang paling harmonis sekalipun dapat mengalami pemutusan hubungan, mungkin karena kematian, mungkin karena konflik yang tidak terselesaikan dan sebagainya.

2.4  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hubungan  Interpersonal
Ruben mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola-pola komunikasi interpersonal sebagai berikut:
1.      Tingkat hubungan dan konteks
Pola yang berkembang akan berbeda pada tingkat komunikasi yang biasa dengan yang intim. Begitu juga konteks akan menentukan pola komunikasi yang tercipta misal di mall yang ramai atau di taman yang sepi.
2. Kebutuhan interpersonal dan gaya komunikasi
3. Kekuasaan
4.   Konflik
Sementara itu Jalaluddin Rakhmat menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola komunikasi dalam hubungan interpersonal:
1.      Percaya (trust).
Percaya menentukan efektivitas komunikasi dan dapat meningkatkan kadar komunikasi interpersonal yang terbentuk.
2.   Sikap suportif
3.   Sikap terbuka

2.5  Karakteristik Perkembangan  hubungan Interpersonal
2.5.1     Hubungan Dengan Keluarga
           Keluarga merupakan unit social yang terkecil yang memiliki peranan penting dan menjadi dasar perkembangan psikososial anak dalam konteks social yang lebih luas. Untuk itu dalam memahami perkembangan psikosos,ial peserta didik, perlu bagaimana hubungan anak dengan keluarganya.

2.5.1.1     Karakteristik Anak Usia Sekolah Dengan Keluarga
Masa usia sekolah dipandang sebagai masa untuk pertamaklinya anak memulai kehidupan social mereka yang sesungguhnya. Maka terhadilah perubahan hubungan anak dengan orang tua. Perubahan tersebut diantaranya disebakan adanya peningkatan waktu anak denga teman-teman sebayanya di sekolah.
Sekalipun tidak lagi menjadi subjek tunggal dalam pergaulan anak orang tua teap menjadi bagian yang penting dalam proses ini karena mereka yang menjadi figure sentral bagi si anak. Oleh sebab itu orang tua harus menuntun anak untuk menjadi bagian dalam lingkuangan social yang lebih luas.
Sesuai dengan masa perkembangan kognitipnya yang semakin matang. Maka pada usia sekolah anak secara berangsur-angsur lebih bannyak mempelajari mengenai sikap-sikap dan motivasi orangtuanya, serta memahami aturan-aturan keluarga sehingga mereka menjadi lebih mampu untuk mengendalikan ytingkah lakunya.
Pada priode ini orang tua dan anak-anak telah memilik sekumpulan pengalaman masa lalu bersama, dan pengalam  ini membuat hubungan keluarga menjadi bertamnbah unik dan penuh arti.

2.5.1.2     Karakteristik Anak Usia Remaja Dengan Keluarga
Perubahan kognitif , fisik dan social yang terjadi dalam  perkembangan  remaja mempunyai pengaruh besar terhadap relasi orang tua dengan  remaja. Remaj kebanyakan lebiih sedikit meluangkan waktunya dengan orang tua dan lebih mengahbisakn waktu unytuk berinteraksi dengan dunia yang  lebih yang membuat mereka berhadapan dengan nilai-nilai dan ide yang baru.
Beberapa peneliti yang meneliti masalah perkembangan anak remaja menyatakan bahwa pencapaian otonomi psikologis merupakan salh satu tugas perkembangan yang terpenting dari masa remaja. Akan  tatapi terdapat perbedaan mengenai tipe lingkungan keluarga yang lebih kondusif bagi perkembangan otonomi ini. 
Sejumlah teori dan penelitian kontemporer  menyatakan bahwa otonomi yang baik akan  terbangun dalam lingkungan keluarga yang positip dan  suportif. Menurut  mereka, hubungan yang suportif memungkinkan untuk mengungkapkan perasaan positif dan negatef yang membantu dalam perkembangan social dan otonomi yang bertanggung  jawab (hasil penelitian lamborn dan  steinberg 1993) .

2.5.2     Hubungan Dengan Teman Sebaya
Tidak berlebihan kiranya apabila Hartub,dkk (1996) menulis “the social relayion of children and  adolescent ared centered on their friend as weil their  families” . sebab bagaimanapun bagi anak usia sekolah teman sebaya (peer)  memilik fungsi yang sama dengan orang tua. Teman bisa memberika ketengan dalam kekhawatiran. Tidak jarang terjadi anak yang tadinya penakut menjadi pemberani berkat teman sebaya. Berikut ini akan di uraikan beberapa asfek perkembangan peserta didik denga teman sebayanya :

2.5.2.1 Karakteristik Anak Usia Sekolah Dengan Teman Sebaya
Seperti awalnya sama dengan masa anak-anak. Berinteraksi denag teman sebaya akan banyak  menyita waktu selam pertengahan dan akhir-akhir masa anak-anak. Barker dan Wright (dalam santrok , 1995) mencatat bahwa anak-anak usia 2 tahun menghabiskan 10%  waktu siangnya untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Pada usia  4 tahun meningkat menjadi 20% sedangkan anak usia  7-11 tahun meluangkan lebih dari 40% waktunya untuk berinteraksi dengan teman sebaya.

3.5.2.2  Pembentukan Kelompok
Interaksi teman sebaya yang terjadi dalam  gruf atau kelompok. Sehingga friode ini sering disebut “usia kelompok” pada masa ini anak sudah tidak puas lagi untuk bemain sendirian di rumah. Atu melakukan kegiatan dengan anggota keluarga yang lain. Hal ini karena anak memilik keinginan yang kuatg untuk diterima sebagai anggota kelompok. Serta merasa tidak puas apbila tidak bersama-sama denga teman-temanya.
Dalam menetukan kelompok ini biasanya anak usia sekolah dasar ini lebih menekankan pada aktifitas bersama-sama. Seperti bercanda,ber main,berjalan  kesekolah. Merupakan dasar bagi kemungkinan  ter bentuk kelompok teman sebaya. Rubin dan Krasnor (1980).pada usia anak 6 – 7 tahun, kelompok teman sebaya tidak lebih dari kelompok bermain ; pada anak usia 9 tahun keompok menjadi lebih formal sekarang keompok berkumpul menurut kegemaran dan  minat yang sama.


3.5.2.3  Popularitas, Penerimaan  Sosial dan Penolakan
Pada anak usia sekolah dasar sudah terlihat adanya usaha untuk mengemabangkan suatu penilaian terhadap orang lain dengan  berbagai cara. Hal ini terlihat dari pemilihan teman lebih meningkat dan lebih meningkat dengan lebih mendasarkan pada kualitas pribadi, seperti kejujuran, kebaiukan hati, humor , kepintaran dan kreativitas.
Para ahli psikologi sudah meneliti mengenai factor apa yang menjadikan anak popular. Dalam penelitian itu para peneliti menggunakan metode sosiometri (hallinan, 1981 ) yaitu suatu teknik yang digunakan untuk mengetahui setatus dan penerimaan social anak diantara teman sebayanya. Dan hasil penelitian ini di susun dala sosiogram, yaitu suatu diagram yang menggambarkan iteraksi anggota suatu kelompok atau bagaimana perasaan satu anak dalam kelompom kepada anak yang lain. Sosiogram ini menunjukan mana anak yang banyak di terima dan tidak. Kemudian para peneliti membedakan anak-anak atas dua, yaitu : anak yang popular dan anak yang tidak popular.
Popularitas seorang anak ditentukan oleh berbagai kualitas yang dimilikinya,Hartup (1983) mencata bahwa anak yang popeler adalha anak yang ramah,suka bergaul,suka bersahabat,sangat peka secara social dan sangat mudah bekerja sama dengan orang lain. Asher et al,1982 (Seifert &hufnung1994),  mencatat bahwa naka-anak yang populler adalah anak yang mudah menjalin kerja sama dan interaksi social dengan mudah,,memehami situasi social,memilik keterampilan yang tinggi dalam  hubungan antar pribadi dan cenderung bertindakk engan dcara-cara yang koopratip,prososial sertta selaras dengan norman-norma kelompok. Popularitas juga dihubungkan dengan IQ dan prestasi akdemik. Anak-anak lebih menukai anak yang pintar dan rajin disekolah. Demikian juga dengan orang yang pemalas dalam akademik (Zigler & Stevensen,1993)
Anak-anak yang tidak populer di golongkan menjadi dua yaitu : anak-anak yang ditolak (rejected children ) dan anak-anak yang diabaikan (neglected children). Anak-anak yang di abaikan adalh anak-anak yang menerima sedit perhatian dengan teman sebaya mereka. Dan anak yang di tolak adalah anak-anak yang di tolak dan tidak di sukai oleh anggota kelompok yang cenderung bersipat egois, mengganggu, mempunyai sipat-sipat positip dan banyan sikap negative.
Anak-anak yang ditolak cenderung akan bersikap agresif, hiferaktiv, kuarang perhatian dan atau ketidakdewasaan, sehingga sering bermasalah dengan akademis di sekolahnya (Putallas & wiserman,1990) akan tetapi tidak semua anak-anak yang ditolak berfrilaku agresif. Meskipun frilaku agresif influsif dan menganggu mereka mengalami penolakan namun kira-kira 10 hingga 20% anak-anak yang ditolak adalh anak-anak yang pemalu (Santrok, 1996)

3.5.3        Persahabatan
Karakteristik lain dari pola hubungan anak usia sekolah dengan teman sebayanya adalah munculnya keinginan untuk menjalin hubungan pertemanan yang lebih akrab atau yang dalam kajian psikologi perkembangan di sebut dengan istilah friendship (persahabatan).
Jadi, persahabatan lebih dari pertemanan biasa McDevitt dan Ormrod (2002), setidaknya ada tiga kualitas yang membedakan hubungan persahabatan dengan hubungan teman sebaya lainnya, yaitu:
1.      They are voluntary relationships (adanya hubungan yang di bangun secara suka rela)
2.      They are powered by shared routines and customs (hubungan persahabatan di bangun atas dasar kesamaan kebiasaan)
3.      They are reciprocal relationships (persahabatan di bangun atas dasar hubungan timbal balik)
Menurut Santtrock (1998), karakteristik yang paling umum dari persahabatan adalah keakraban (intimacy), dan kesamaan (similarity). Keakraban dapat di artikan sebagai penyingkapan diri dari berbagai pemikiran pribadi. Anak juga lebih bersedia berbagi dengan sahabat meskipun terkadang terjadi persaingan sehingga menurunkan kesedian mereka untuk berbagi dengan sahabat.
Sementara Santtrrock menyebutkan enam pungsi penting dari persahabatan yaitu:
1.      sebagai kawan (companionships)
2.      sebagai pendorong (stimulations)
3.      sebagai dukungan pisik (pisikalsupport)
4.      sebagai dukungan ego (ego support)
5.      sebagai perbandingan social (socialcomparison)
6.      sebagai pemberi keakraban dan perhatian (intimacy/affection)
persahabatan merupakan sala satu  phenomena interaksi social yang sangat penting bagi anak-anak usia sekolah. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya anak usia 10 tahun mulai lebih memperhatikan kualitas hubungan persahabatan. Mereka sudah lebih terampil dalam sosialisasi sudah dapat menghargai nilai hal ini terjadi karena kematangan untuk berempati.
Hetherington dan Parke (1999), menggambarkan tiga tahap perkembangan gagasan anak tentang persahabatan yaitu:
1.                          Reward-cost stage (7-8 tahun), pada tahap ini anak menyebutkan ciri-ciri sahabat sebagai teman yang menawarkan bantuan, melakukan kegiatan bersama-sama memberikan ide bisa bergabung dalam permainan dan memiliki kesamaan demografis.
2.                          Normative stage (10-11 tahun), anak mengharapkan sahabatnya bisa menerima dan mengagumi dirinya. Setia dan memberikan komitmen terhadap persahabatan serta mengekpresikan sikap yang sama dan nilai terhadap aturan.
3.                          Empatic stage (11-13 tahun), anak mengahrapkan kesungguhan intimacy dari sahabat.

2.5.3.1 Karakteristik Remaja Dengan Teman Sebaya
Perkembangan kehidupan social remaja juga di tandai dengan gejala meningkatnya pengaruh teman sebaya dalam kehidupan sebaya sebagian waktunya di habiskan untuk bergaul dengan teman sebaya mereka. Dalam suatu investigasi di temukan bahwa anak berusia dua tahun menghabiskan waktu 10 % setiap harinya, 20 % pada usia empat tahun dan lebih dari 40 % pada usia 7-11 tahun (santrock 1998).
Stadi kontemporer tentang remaja menunjukan bahwa hubungan yang positif dengan teman sebaya di asosiakan dengan penyesuaian social yang positif. Secara lebih rinci Kelly dan Hansen (1987), menyebutkan enam pungsi positif dari teman sebaya yaitu:
1.      mengontrol impuls-impuls negative
2.      memperoleh dorongan emosional dan social serta lebih menjadi independen
3.      meningkatkan keterampilan social, kemampuan penalaran dan belajar untuk mengekpresikan perasaan dengan cara yang lebih matang.
4.      Mengembangan sikap terhadap seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin
5.      Memperkuat penyesuaian moral
6.      Meningkatkan harga diri (self-esteem)
Ahli lain menekankan pengaruh negative dari teman sebaya terhadap perkembangan anak dan remaja. Bagi sebagian remaja ditolak atau di abaikan oleh teman sebaya menyebabkan munculnya perasaan kesepian dan permusuhan. Di samping itu, penolakan oleh teman sebaya di hubungkan dengan kesehatan mental dan kejahatan. Lebih dari itu, teman sebaya dapat memperkenalkan remaja pada alcohol, narkoba, kenakalan, dan berbagai prilaku yang di pandang orang dewasa maladiktif (santro 1998).
3.5.3.2  Hubungan Dengan Teman Sekolah
Bagi seorang anak memsuki dunia sekolah merupakan pengalaman yang menyenangkan namun sekaigus menebarkan semua itu karena lingkungan social sekolah berbeda dengan lingkungan social keluarga. Sekolah merupakan lingkungan artipisial yang berguna mendidik dan membina generasi muda kearah tertentu terutama membekali anak dengan pengetahuan dan kecakapan hidup (life skill). Yang di butuhkan di kemudian hari.
Dusek (1991) mencatat dua pungsi utama sekolah demi remaja yaitu: pertama memberikan kesempatan pada remaja untuk tumbuh secara social dan emosional; kedua membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang di perlukan untuk menjadi orang yang mendiri secara ekonomi dan menjadi anggota masyarakat produktif.
Disamping keluarga dan teman sebaya sekolah juga mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan anak. Bagi kebanyakan anak dan remaja guru di sekolah masih merupakan sumber identifikasi dan symbol otoritas yang mampu menciptakan iklim kelas dan kondisi-kondisi interaksi di antara siswa-siswanya guru masih mempunyai peran sentral dalam kehidupan anak remaja yang sering sangat menentukan bagaimana mereka merasakan berada di sekolah dan bagaimana mereka merasakan diri mereka.
Demikian pentingnya pengaruh guru terhadap kehidupan remaja, maka sejumlah ahli psikologi perkembangan telah mencoba merumuskan satu propil tentang sipat-sipat kepribadian seorang guru yang baik. Gage (dalam zigler dan Stevenson 1993) misalnya: menunjukan beberapa sipat guru yang di asosiasikan dengan keberhasilan siswa di sekolah. Yaitu: antusiasme, mampu membuat perencanaan, bersikap tenang, mampu beradaptasi, fleksibel, dan menyadari akan perbedaan individual. Sementara Erik erikson menyatakan bahwa guru yang baik adalah menciptakan suatu sense of industry bukan inferiority bagi para siswanya. Mereka memahami bagaimana melakukan selingan antara belajar dan bermain menghargai kemampuan murid, mengetahui bagaimana mengetahui menciiptakan suasana anak memandang diri mereka secara positif.
2.6  Implikasi perkembangan Hubungan Interpersonal terhadap Pendidikan
 Hubungan imterpersonnal dapat di artikan sebagai hubungan antar pribadi. Peserta didik sebagai pribadi yang unik sebagai makhluk social. Peserta didik senantiasa melakukan inreraksi social dengan orang lain. Interaksi social menjadi faktor utama dalam hubungan interfersonal antara dua orang atu lebih yang saling mempengaruhi. Perkembangan hubungan interpersonal peserta didik senantiasa berkembang sesuai dengan bertambah usia dan taraf pergaulan. karakteristik perkembangan interpersonal dari satu tahap ke tahap lainnya mempunyai banyak perbedaan sehingga hal itu akan mempengaruhi bagaimana cara seorang pendidik atau guru dalam melakukan dan cara pembelajarannya. Cara pembelajaran yang di terapkan oleh seoranng pendidik harus senantiasa disesuaikan dengan tahapan perkembangan hubungan interfersonal peserta didik. Jiakalau tidak maka pendidikan yang kita berikan kepada peserta didik tidak akan mencapai keberhasilan. Tahapan perkembangan hubungan interpersonal akan mempengaruhi mengenai bagaiman cara dan metode seorang pendidik dalam memberikan pendidikan peserta didik dan bagaimana cara kita memperlakukan dan bersikap kepada peserta didik.



















BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagi hubungan antar pribadi dengan pribadi  yang lain. Hal itu sejalan dengan fotrah manusia selain sebagai makhluk individual juga sebagai makhluk social sehingga hubungan interpersonal pasti akan di alami oleh seluruh manusia yang hidup secara normal. 
Hakikat dari hubungan interpersonal adalah bahwa ketika berkomunikasi, kita bukan hanya menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal. Jadi, kita bukan sekedar menentukan content tetapi juga relationship. Pandangan ini merupakan hal baru dan untuk menunjukkan hubungan pesan komunikan ini disebut sebagai metakomunikasi.
Hubungan interfersonal selalu mengalami perkembangan dan perubahan sesuai dengan bertambahnya umur menuju kepada tingkat kematangan dalam kehidupannya.

3.2  Saran-Saran
Seorang pendidik, guru dan orang tua haruslah paham dan mengetahui perkembangan hubungan interpersonal peserta didik baik karakteristik, tahapan  dan factor yang mempengaruhinya. Supaya dapat memahami dan mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk mendidik anak supaya anak didik yang didik mencapai keberhasilan. Jiak  tampa memehami mengenai semua itu maka akan sedikit kemungkian kalu pendidikan yang diberikan aknan mencapai keberhasilan.











DAFTAR PUSTAKA

Ø  Dra. Desmita, M.Si (2010)  Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung :PT. Remaja Rosda Karya
Ø  Mahmud Hamdi,(2006) cara mendidik anak berdasarkan Al-qu’an. Ashunnah dan Psikologi. Bandung :Hikmah
Ø  Clara R. Pujdojogyanti, (1993):Konsep Diri Dalam Pendidikan, Jakarta : Arcan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar